Lapas Kelas III Lirung Talaud Beri Pembinaan Puluhan Warganya

banner 468x60

JURNALSWARA, Talaud– Sesuai Permenhumkam no 06 Tahun 2013 Tentang Kewajiban dan Larangan saat di lapas, puluhan warga binaan Lapas kelas III Lirung mendapat pembinaan.

Kepala Lapas Kelas III Lirung Djitro Tindi melalui Kasubsi Kamtib Marthen Permenas Bee kepada media ini, Sabtu (8/1/2022) mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk membentuk karakter Para Warga binaan agar disiplin serta menaati semua larangan saat dalam pengawasan sebagai warga binaan.

Bacaan Lainnya
banner 300250

” Semua Warga Binaan berhak mendapatkan Hak WBP , Kewajiban WBP serta harus menaati larangan WBP yang sudah tercantum dalam
Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan,” kata Bee.

Lebih lanjut Bee menjelaskan, peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan, Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI No. 6 Tahun 2013 tentang Tata Tertib Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan Negara.

Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

Marten Bee juga menegaskan dimana peraturan Larangan WBP tentang 7 Kewajiban dan 22 Larangan yang berkaitan dengan tata tertib di Lapas harus selalu diperhatikan oleh para napi.

Dikatakan Marthen Ada 6 (enam) pilar karakter yang penting untuk dimiliki setiap narapidana, yaitu : 1) Kejujuran (honesty); 2) Rasa percaya diri (trustworthiness); 3) Rasa hormat (respect); 4) Rasa tanggungjawab (responsibility); 5) Rasa kepedulian (caring); dan 6) Toleransi (tolerance). Karakter tersebut tidak bisa ditanamkan dengan serta merta pada diri narapidana, diperlukan program pembinaan yang sistematis dan berkesinambungan.

Selama ini di Lapas terdapat dikotomi tentang pembinaan; yaitu pembinaan kepribadian yang menjadi domain seksi Pembinaan Narapidana dan Anak Didik (Binadik) dan pembinaan keterampilan yang menjadi domain seksi Kegiatan Kerja (Giatja). Secara struktural dikotomi itu perlu untuk memperjelas tanggungjawab kerja masing-masing seksi tapi secara fungsional seharusnya kedua jenis pembinaan itu bisa saling melengkapi.

“Untuk mengintegrasikannya diperlukan sebuah program yang bisa mengakomodir keduanya yaitu Pendidikan Karakter Atau (character education) bagi narapidana agar narapidana menyadari kesalahannya, tidak lagi berkehendak untuk melakukan tindak pidana dan kembali menjadi warga masyarakat yang bertanggung jawab, tidak bisa tercapai,” ujar Marthen.(wem)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60