SWM, Si Kecil Yang Bernyali (Bagian 3/Selesai)

Sri Wahyumi Manalip, tantangan alam laut membuat dirinya menjadi manusia bernyali.
banner 468x60

“Di ujung cambuk ada emas,” kata dia melukiskan cara ayahnya mendidiknya dengan disiplin dan keras. “Ayah saya termasuk seorang feodal tulen. Saya dan adik saya sejak kecil dididik dengan cara hidup disiplin yang ketat. Dia mengawasi jam belajar kami, membatasi waktu bermain di luar rumah, hingga melakukan sejumlah pekerjaan di dalam rumah, antaranya membersihkan rumah dan memasak,” kisahnya.

Dia mengatakan sempat jengkel dan risih dengan cara ayahnya mendidik dia dan adiknya. Namun saat ini, kata Sri Wahyumi, ia justru bersyukur dengan didikan ayahnya yang menempah dirinya menjadi sosok yang kuat, teguh dan punya prinsip.

Bacaan Lainnya
banner 300250

“Terima kasih untuk ayah yang telah membimbing saya menjadi perempuan yang tidak lembek. Juga untuk ibuku yang mengajarkan cinta kasih, empati, kebaikan, dan sejatinya hidup seorang perempuan kepulauan,”ungkapnya.

Dan ketika saya menjabat Bupati, kedua orang tua saya itu, tidak henti-hentinya mengingatkan saya agar menjadi pemimpin yang baik bagi rakyat, memperhatikan kehidupan rakyat, dan berpihak pada kepentingan rakyat. Sri Wahyumi mengatakan ia menyelesaikan pendidik Sekolah Dasar (SD), SMP, hingga SMA di Beo. Baru pada masa kuliah dia tinggal di Manado. Sejak masa SD hingga SMA, katanya, ia selalu dipercayakan oleh guru dan pemerintah kecamatan sebagai pengalung bunga bagi para tamu pemerintah yang datang dari Kabupaten yang saat itu masih tergabung dengan Sangihe dan Sitaro, juga dari Provinsi, atau dari Pusat.

“Sejak masa kecil hingga remaja, saya selalu dipercayakan sebagai pengalung bunga bagi para pejabat yang datang. Siapa menyangka saat ini justru saya mendapatkan kalungan bunga setiap kali berkunjung ke wilayah kecamatan,” tuturnya. Tentang namanya yang terkesan Jawa, ia mengatakan, nama Sri Wahyumi itu nama yang diberikan Komandan Zipur Angkatan Darat yang melakukan tugas ABRI Masuk Desa (AMD).

“Dari cerita kedua orang tua saya, Komandan Zipur bernama Pak Wahyudi dan Pak Tungari, ketika sedang melaksanakan tugas AMD di Beo, mereka menginap di rumah kami. Saat kelahiran saya mereka meminta kepada orang tua saya agar mereka saja yang memberi nama. Pak Tungari memberi nama pertama Sri yang berarti Dewi Padi, dan Pak Wahyudi memberi nama Wahyumi yang arti pembawa Wahyu Ilahi.

Pemberian nama itu sebagaimana cerita kedua orang tua saya disertai upacara dan ritual ala budaya Jawa,” tutur Sri Wahyumi. Lanjut dia, nama Maria itu diambil dari nama Oma, sementara Manalip adalah marga bawaan dari ayah.

“Namun di Kota Beo, orang-orang lebih mengenal saya dengan nama Cheche yang artinya anak tertua,” ujarnya. Apakah nama Sri Wahyumi memberi pengaruh pada kesuksesannya di dunia politik dan pemerintahan?

Dia mengaku menyandang nama pemberian tulus kedua sosok Den Zipur itu setidaknya merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Sebelumnya, kata dia, tak pernah sedikit pun bermimpi menjadi Bupati, karena ia menyadari latar belakang hidupnya dari keluarga biasa.

“Ayah dan ibu saya itu orang biasa. Keluarga kami keluarga biasa-biasa saja. Hanya saja ayah dan ibu adalah orang-orang yang tangguh dalam berusaha memperjuangkan hidup, sehingga kami punya rumah yang lumayan besar di Beo ketika itu, para tamu dari kalangan pemerintahan dan militer sering nginap di rumah kami,” ungkapnya.

Tentang jalan hidup dan kariernya di politik hingga menjadi Bupati menurutnya semata-mata karunia dari Tuhan. “Itu sebabnya, saya memandang jabatan Bupati yang saya sandang benar-benar alur hidup yang sudah Tuhan persiapkan bagi saya sejak masa kanak-kanak, agar bisa mengabdi dan membangun daerah kampung halaman saya sendiri,” kata Sri Wahyumi.

Lanjut ungkapnya, Tuhanlah yang menempah hidupnya lewat bimbingan orang tua, para guru, sahabat, orang-orang tua dan para tokoh masyarakat di kampung, bahkan alam daerah kepulauan yang keras, yang membuat dia punya kekuatan, keberanian dan nyali, dan terutama kearifan dalam memimpin daerah.

“Banyak orang menilai saya terlalu disiplin dalam bekerja, tegas dalam bersikap dan bertindak. Tapi semua itu saya lakukan demi kemajuan kabupaten Talaud. Bahkan saya sering berantem dengan teman-teman Dewan di DPRD Kabupaten Talaud hanya demi memajukan daerah.

Dalam banyak kebijakan demi memajukan Talaud saya sering mempertaruhkan jabatan saya,” ungkap dia. Kendati begitu, kata dia, ia sangat berterima kasih kepada teman-temannya di Dewan yang selalu responsif dan ikut bersinergi menopang dan mengawasi pembangunan Kabupaten Kepulauan Talaud sehingga bisa dua kali meraih predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang mencapai standar tertinggi. (disadur dari buku Sang Petarung Dari Perbatasan Karya Iver Tinungki, Denny Dalihade/***)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60