SWM, Si Kecil Yang Bernyali (Bagian 2)

Sri Wahyumi Manalip, tantangan alam laut membuat dirinya menjadi manusia bernyali.
banner 468x60

SEPANJANG pantai hingga kira-kira limaratusan meter ke laut, hamparan karang membuat pesisir ini begitu dangkal pada masa air pasang sekalipun. Beo, bagaimana pun kecilnya, harus disebut sebagai kota karena menurut legenda masyarakat setempat, pernah menjadi pusat kerajaan Makatara dimasa Hindu. Konon, sejak lama mereka sudah menjalin hubungan dengan kerajaan Kutai dan Samudera Pasai. Dataran pemukiman penduduknya—yang menjadi jantung kota– tidak begitu luas.

Hanya sekitar puluhan hektar. Gunung-gunung yang tidak begitu tinggi, mengepung dari arah utara dan memanjang keselatan. Di utara ada gunung Wowon Duata. Dari namanya, gunung ini dikenal agak keramat. Ada semacam mite yang berkembang sejak masa purba dinamisme, dimana gunung ini merupakan tempat persemayaman arwah-arwah leluhur yang sakti. Kekuatan sakti yang ikut berdinamika dalam kehidupan masyarakat seharihari, bahkan menjadi sistem nilai masyarakat.

Bacaan Lainnya
banner 300250
Perjalanan menuju Gunung Piapi.

Di Selatan ada gunung Piapi. Bentangan yang kurang lebih enam puluh kilometer ini masih diselingi beberapa gunung seperti Wowon Warawan, Wowon Mandeeta, yang puncaknya sekitar 1300 meter di atas permukaan laut. Di mana-mana mengalir Andaraa (Sungai). Sungai-sungai itu mengalirkan air cukup bening, hingga menjadi sumber air minum masyarakat. Di sungai-sungai itu hidup banyak buaya. Buaya-buaya ini dimitoskan kadang merupakan bentuk dari mahkluk gaib dan mistik. Sejak abad 16, harta dan tanaman-tanaman mereka selalu dirampok, oleh para perompak Mangindano dari kepulauan Sulu, di Filipina. Pada masa penjajahan Belanda, mereka hampir-hampir kehilangan hak mereka atas tanah dan harta-harta mereka lainnya.

Di masa pendudukan Jepang, mereka menjadi para pekerja paksa dan banyak yang terbunuh. Ketertinggalan atau lebih layak disebut keterasingan kawasan tersebut adalah potret kebanyakan dusun-dusun di wilayah Timur Indonesia ketika itu. Namun kondisi tersebut telah banyak berubah pasca-kepulauan Talaud dimekarkan menjadi kabupaten, dari kabupaten induk Sangihe Talaud pada 2 Juli 2002. Siapa menyangka, anak perempuan tomboy dan bandel di masa kecil ini, kelak menjadi Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud pertama dari kalangan kaum perempuan perbatasan.

Sri Wahyumi maria Manalip.

Dan dia –Sri Wahyumi Maria Manalip– berhasil membuktikan, kaum perempuan punya kemampuan menepis ideologi patriarki yang menganggap ruang perempuan hanya di seputaran dapur dan tempat tidur. Bagi dia, kaum perempuan harus punya akses dan kesempatan untuk mengembangkan diri, bahkan menjadi pemimpin. Berkisah tentang masa kanak-kanaknya yang penuh kelucuan dan keluguan itu, Bupati berparas cantik ini sering tertawa lepas bahkan sampai terpingkalpingkal. Ia mengaku, dirinya termasuk anak yang badung, dan bandel di masa kanak-kanak. Ke mana-mana membawa double stick dan katepel. “Saya bisa memainkan double stick dan beberapa alat bela diri. Sejak kecil saya sudah dilatih ayah bela diri kungfu. Pada usia kelas 5 SD hingga SMP, kalau main ke mana-mana saya menyelipkan double stick di pinggang celana saya,” ujarnya mengenang masa kanak-kanaknya sambil tertawa lepas. Didikan keras ayahnya, kata dia, menjadikannya anak tomboy yang menyukai permainan ala anak-anak lelaki. “Saya punya katepel dan cukup mahir berburu burung di pohon kenari tak jauh dari rumah kami di Beo,” ungkapnya.

Bersama anak-anak lelaki, cerita dia, ia sering melakukan permainan memanjat pohon yang tinggi. “Saya dan teman-teman juga sering mencuri buah di kebun milik Ratun Banua Beo, Pak Justus Towongkesong, yang kami sebut Opa Kunu. Ulah kami itu membuat Opa Kunu marah dan mengejar kami,” kisahnya sambil terpingkal-pingkal mengingat masa kanak-kanak yang bandel dan badung itu. Ulah bandelnya ini, kata Sri Wahyumi, membuat ia sering dihukum ayahnya mengangkat kaki sebelah dalam sebuah lingkaran kecil yang dibuat ayahnya dengan kapur. Jerah? “Tidak,” kata Sri Wahyumi.

Di masa remaja, sebagai gadis tomboy, Sri Wahyumi mengatakan, dirinya malahan sering menghadang anak-anak lelaki yang lewat dekat rumah. “Ya untunglah anak-anak lelaki itu tak mau berkelahi dengan saya, karena barangkali mereka merasa tak pantas berkelahi dengan anak perempuan seperti saya,” kata dia. Diceritakannya, ia paling senang bermain di pantai, dan permainan itulah yang membuat ayahnya sering murka. “Karena larangan-larangan ayah itu, kendati saya berani mengarungi laut lepas sendirian dengan Jet Ski, atau speed boat, jangan anggap saya ini mahir berenang,” kata dia sambil tertawa lepas. Namun ungkap Sri Wahyumi, ia sangat suka dengan laut.

Sri Wahyumi Manalip semasa menjabat sebagai Bupati Talaud.

Karena tantangan alam laut membuat seseorang menjadi manusia bernyali. “Ada yang bertanya pada saya, apakah saya tidak takut dimangsa Hiu saat mengendarai Jet Ski menyeberangi laut lepas? Saya jawab, hidup mati seseorang itu di tangan Tuhan, mengapa harus takut?” Bahkan, ungkap dia, dalam waktu dekat ini, dalam rangka memeriahkan perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Kepulauan Talaud, ia akan melakukan atraksi terjun payung tandem dengan para penerjun dari POLRI. “Menakluki medan laut dan darat sudah. Kini saya ingin menakluki medan udara lewat aksi terjun payung,” ungkapnya dengan cara berceloteh.

Saat ini, kata dia, banyak kalangan dan bahkan media massa menilai cara berpakaian saya itu sangat fashionable, padahal sejak masa kecil hinggga kini saya tak pernah telalu banyak mikir soal pilihan pakaian atau dandanan. “Patokan saya hanya memilih pakaian yang nyaman dikenakan,” ujarnya. Di masa kanakkanak hingga hingga remaja, sambungnya, ia berpakaian ala anak lelaki, karena simpel, asyik, dan nyaman dikenakan. “Bahkan saya paling suka jalan bertelanjang kaki ke mana-mana. Bermain aspal ketika para pekerja sedang membuat jalan. Saya ini memang nakal di masa kanak-kanak itu.(bersambung)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60