4 Saksi Beri Keterangan Meringankan SWM

Sri Wahyumi Maria Manalip (Mantan Bupati Talaud)
banner 468x60

JURNALSWARA, Manado – Sidang kasus suap mantan bupati Kepulauan Talaud periode 2014-2019 Sri Wahyumi Manalip (SWM) yang berlangsung Selasa, (30/11/2021) siang hingga sore tadi menghadirkan empat orang saksi meringankan.

Keempat saksi yang dihadirkan yakni Sunarto Bataria SH, Marly Megansa, Sonny dan Armindo Pardede yang merupakan suami terdakwa yang juga salah satu hakim tinggi di Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara.

Bacaan Lainnya
banner 300250

Dua saksi yakni Sunarto Bataria dan Marly Megansa memberi keterangan terkait kinerja terdakwa selama menjabat bupati sementara Sonny dan Armindo Pardede memberikan keterangan tentang keberadaan keluarga terdakwa yang mereka kenal sebagai salah satu kelurga terkaya di Kepulauan Talaud sejak terdakwa masih kecil, sebagaimana penuturan saksi Sonny yang pernah menjabat Kepala Desa Essang yang merupakan desa kelahiran ibunda dari terdakwa.

“Tahun 80-an semasa saya menjabat kepala desa Essang, saya membuat daftar nama keluarga asal Essang yang tinggal di luar Essang dan salah satunya adalah keluarga dari orangtua terdakwa. Saat itu sudah dikenal sebagai keluarga yang mapan sampai hari ini melalui usaha orangtuanya,” jelas Sonny saat ditanya oleh Ketua tim kuasa hukum terdakwà Eduard Manalip SH.

Sementara Bataria maupun Megansa menjelaskan bagaimana kinerja dan sikap kerja terdakwa selama menjabat.

“Beliau memiliki tekad dan sikap untuk merubah perilaku ASN di Talaud dan itu dibuktikan melalui penilaian BPK yang memberikan opini Wajar Dengan Pengeculian di tahun pertama masa jabatannya dan selanjutnya Wajar Tanpa Pengecualian di tahun-tahun berikutnya,” papar Bataria.

Ditanya oleh penuntut apakah saksi tahu mengenai mutasi besar-besaran yang dilakukan terdakwa, Bataria dengan tegas mengiyakan.

“Iya memang benar dan keputusan waktu itu adalah sebuah kebijakan yang wajar diambil dan dilakukan oleh seorang bupati dalam hal ini oleh Sri Manalip mengingat dan dalam upaya mencegah potensi terjadinya stagnasi kepemimpinan dan jalannya pemerintahan. Kebijakan soal mutasi yang dilakukan waktu itu adalah sebuah kewajaran dan hal itu lazim dilakukan. Maka bupati saat itu demi mencegah terjadinya potensi stagnasi pemerintahan melakukan diskresi yang diberi ruang oleh aturan untuk melakukannya,” beber Bataria.

Megansa sendiri memberi kesaksian bahwa sewaktu dirinya menjadi Pejabat Pembuat Komitmen dalam proyek pembuatan Patung Tuhan Yesus memberkati, dirinya memutus kontrak pihak pelaksana setelah mengikuti seluruh aturan dan waktu pelaksanaan.

“Saya memberi penjelasan kepada terdakwa selaki bupati bahwà pekerjaan harus diputus kontrak sebanyak dua kali. Pada akhirnya tetap diputus kontrak dan sisa pekrjaan diselesaikan oleh terdakwa sampai selesai,” jawab Megansa.

Keterangan Saksi Armindo Pardede menyangkut jumlah kekayaan orangtua terdakwa, juga terkait rekening dirinya yang juga turut di blokir meski kemudian bisa menerima penjelasan salah satu hakim anggota bawa itu adalah sistem yang memang harus dilaksanakan.

Setelah melalui pertanyaan-pertanyaan baik dari pihak jaksa penuntut maupun kuasa hukum, saat diberi kesempatan pertanyaan menarik sekaligus menyentuh hati persidangan diutarakan terdakwa kepada saksi Armindo Pardede.

“Saudara saksi, jika dalam persidangan ini kemudian saya masih dihukum apakah saudara masih akan menunggu saya?,” tanya terdakwa Sri Wahyumi Manalip.

Dengan nada tegas saksi Armindo Pardede menjawab “sampai langit runtuh saya akan menunggu kamu,”

Membuat yang hadir terpukau dengan jawaban saksi yang juga suami dari terdakwa.

Sidang selanjutnya akan memasuki babak pemeriksaan terdakwa yang dijadwalkan pada 7 Desember mendatang. (Dd/v@n) 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60