Resta Bermata Tajam, dan Cerita Mistis Jalan Langsat Buyat

banner 468x60

Penulis: Andri Mohama

Jam dinding rumahku menunjukan pukul 17.00 Wita, tiba- tiba terdengar suwara dari dalam kamar tangisan anak kecil bernama resta, resta adalah anak laki-laki semata wayangku yang berumur 3 tahun lebih, akupun masuk ke dalam kamar dan langsung memeluknya membawah resta keluar kamar. Setelah keluar kamar aku memeluk resta duduk di kursi sofa yang ada di ruangan tamu rumahku.

Bacaan Lainnya
banner 300250

Istriku yang sedang berada di dapur dia pun masuk ke dalam ruangan tamu dan berkata kepadaku, “Andri sediki lagi kita dengan ngana mo antar kukis di ratatotok ne” (andri sedikit lagi aku dan kamu pergi mengantar kue di ratatotok),” kata istri ku yang akrab disapa Fera.

Desa Reatatotok berada di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), berbatasan langsung dengan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Fera mulai mempersiapkan diri untuk mengantar kue ke Desa Ratatotok, sedangkan aku memandikan Resta.

Begitu istriku selesai bersiap-siap akupun sudah selesai memandikan anaku. Setelah semuanya sudah siap, aku menghidupkan sepeda motor metic yang akan kami pakai untuk mengantar pesanan kue di desa Ratatotok. Desa Ratatotok berjarak sekitar 15 kilo meter dari kediamanku di Desa Kotabunan.

Fera keluar dan langsung naik ke sepeda motor. Ia duduk di belakang (boncengan) sedang anaku duduk di depan. Akupun langsung menjalankan sepeda motor metic ke arah Tenggara Minahasa.

Dalam perjalanan, kami menikmati indahnya senja. Kami lalui tanjakkan Jalan Buyat yang konon katanya banyak menyimpan carita mistis oleh warga kotabunan bersatu dan buyat bersatu.

Sepanjang perjalanan kami bertiga di suguhi pemandangan yang indah, terlihat lautan yang begitu luas dan pulau kumeke yang dapat dipantau dari puncak Jalan Buyat.

Istriku berkata dengan dialeg Manado, “Andri boleh capat sadiki tu motor dari somo malam kong somo ujang lagi, dari kalu so malam jalang Buyat ini rawan. (Andri bisa ngak dipercepat sedikit motornya karena hari sedah hampir malam dan cuacanya akan hujan ).”

Akupun mempercepat motor metic yang aku kendarai.

Hampir satu jam perjalanan kami tiba di Desa Ratatotok dan langsung mencari alamat salah satu warga yang memesan kue kepada istriku. Pesanan kue pun sampai kepada pemesan kue.

Begitu selesai memberikan pesanan kue kepada pemesan, kami pun langsung berbalik pulang menuju Desa Kotabunan.

Tepatnya di Desa Buyat, hujan rintik-rintik mulai turun, hari sudah mulai gelap adzan magrib mulai berkomandang, istriku berkata, “Andri pindah jo di tengah pa Resta dari so ba rinte-rinte.” ( andri pindah ajah sih resta di tengah karena hujan sudah mulay rintik-rintik). Resta akhirnya dipindahkan di tengah-tengah kami.
Awalnya Resta tak mau duduk di antara aku dan istriku, tapi aku terus menjalankan motor.

Di pinggiran danau Buyat, tepat di tanjakan ada pohon kapas, anak saya melihat seseorang yang melambaikan tangannya untuk memanggil-manggil. Anakku pun berkata “Papa ada orang pangge.” (papa ada orang yang memanggil).

Ku lihat tidak ada sama sekali orang. Saking takutnya istriku yang mendengar apa yang dikatakan Resta, ia menyuruku untuk memacu kecepatan motor metic yang aku kendarai.

Sepanjang perjalanan pulang, di atas sepeda motor rasa penasaranku muncul dengan apa yang baru saja terjadi.

Sesampainya di rumah kulayangkan pertanyaan kepada Resta.

“Apa ade ada lia tadi so.” (apa yang ade lihat tadi).

Anaku menjawab, “Tadi ada orang pangge-pangge depe muka ba luka-luka.” (tadi ada orang yang memanggil mukanya penuh dengan luka-luka).

Mendengar jawaban dari Resta, aku semakin penasaran. Timbul tanda tanya apakah memang cerita orang-orang kalau jalan Buyat itu banyak kejadian-kejadian mistis.

Kejadian itu ku ceritakan kepada mertuaku Sarjan Mokoginta.Mertuaku pun bercerita bahwa pada sekitaran tahun 2015 waktu itu telah terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa seorang perempuan, yang terlindas truk teronton yang bermuatan semen.

“Lalu kenapa tempat kejadian kejadian kecelakaan dinamakan langsa (langsat),” pertanyaan ku layang kan lagi.

Bapak mertuaku menjawab, “karna pada waktu itu dorang ada mo pi ba jual langsat di pasar ratatotok,jadi dorang kase nama langsa” (karena pada waktu itu mereka hendak pergi menjual langsat di pasar ratatatotok makanya di beri nama langsat). Bersambung.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60